Climb It Hard, Climb It Smart!

Hi readers! Ini pertama kalinya saya menyumbang artikel di website partner/coach/and also a friend of mine, Mr.Billy Boen!

Kalau boleh sedikit berbagi, saya itu termasuk orang yang buanyak banget maunya. Sakin banyaknya, kadang-kadang membuat keputusan pun menjadi hal yang sulit untuk saya. Seiring waktu berjalan, saya semakin bisa memilah-milah mana yang ingin menjadi fokus saya. Yaa, mungkin seiring dengan bertambahnya kadar kedewasaan juga. * wink *
Disiplin, kerja keras, dan leadership adalah tiga hal yang orangtua saya selalu ajarkan. Sejak sekolah saya aktif berorganisasi, ikut ekstrakurikuler ini-itu, because I felt good doing it. Sampai di satu titik saya seperti merasa sendirian. Di satu titik saya merasa teman-teman seumuran saya sibuk dengan dunia perkuliahannya, sayapun sibuk menggapai mimpi. Konteks positifnya, dalam hidup saya, I am moving really fast.
Ada perkataan Ayah saya yang nggak akan pernah saya lupa, “Zi, you’re moving way too fast. You need to slow down a bit. You tend to miss details.”
WOW. Kalimat itu seolah menampar saya. But hey, mungkin ada benarnya juga. Terkadang kita sangat bersemangat dan menjadi terlalu berambisi untuk menggapai mimpi kita, which is good, tapi jangan lupa, DETAILS are important! Umpamakan ada 2 orang pendaki gunung. Pendaki pertama sangat fokus dengan tujuannya yaitu menjadi orang yang pertama dan tercepat sampai di puncak gunung. Pendaki kedua juga punya tujuan untuk berada di puncak gunung, namun sesekali ia beristirahat. Makan, minum, menikmati pemandangan beberapa kali selama perjalanan, dan berkenalan dengan pendaki-pendaki lainnya. Sesampainya di atas, pendaki pertama yang tidak punya teman hanya bisa menikmati keindahan alam sendirian, makan sendirian, dan merasa sukses sendirian. Bahkan ia tidak sempat untuk berfoto-foto selama proses pendakiannya karena terlalu berambisi untuk berada di atas. Sedangkan pendaki kedua, walaupun tidak secepat pendaki pertama, namun ia juga sampai di puncak gunung. Ketika pendaki-pendaki lainnya sampai, mereka bercengkrama, makan bersama, menikmati kemenangan bersama, dan berbagi cerita bersama.
Well guys, moral ceritanya adalah kedua pendaki akan sama-sama mencapai tujuannya, yaitu menjadi orang yang berhasil ada di ‘puncak’. Namun bagaimana cara kita menggapai tujuan adalah pilihan. Apakah kamu mau jadi pendaki pertama, yang selalu lebih unggul tapi kehilangan memori dan momen-momen bahagia selama proses menuju puncak? Atau seperti pendaki kedua, kadang mendaki kadang beristirahat, menikmati setiap perjalanan, punya banyak teman, dan tetap mencapai tujuannya walau tidak secepat pendaki pertama?
I know you’re smart enough to choose, young climbers!
Climb it hard! Climb it smart!
Zivanna Letisha Puteri Indonesia 2008 / Principal JIM-f Performing Academy
Twitter: @zivannaletisha

0 comments:

comment